Senin, 08 Oktober 2018

APA ITU CASUALS ?




BRITISH CASUAL FOOTBALL SUPPORTERS FASHION STYLE SUBCULTURE atau "katakanlah disingkat" CASUAL dalam konteks sebagai football supporters fashion subculture (sebuah budaya berpakaian suporter sepakbola) adalah BERBEDA dengan pengertian 'casual' secara kata didalam kamus bahasa Inggris. Sekali lagi, jangan disamakan dengan kata casual seperti yang kita lihat di kamus (santai, cuek, sederhana apa adanya). BEDA ARTI. 
Saat belasan supporters Liverpool FC (salah satu yg pertama kepikiran buat menyamar bergaya pakaian seperti orang kaya memakai brand/ merk Eropa mahal) kembali ke Inggris sepulang mereka dari perhelatan Champions, tak ada nama untuk gaya berpakaian tersebut. Ada yg bilang Smart, ada yg bilang Boss, ada yg bilang Casual, dsb dll. Semuanya adalah Scouse - Aberdeen slang language, beda arti dengan yg ada di kamus Inggris. Beberapa orang yang ingin jadi Casual di Indonesia kadang dengan sempitnya mengartikan Casual (subculture) dengan hanya seperti yg tertera di kamus bahasa Inggris.



Pada akhirnya, kata yg sering diucapkan untuk menyebut Kopites (supporters LFC) yg berbeda gaya tersebut adalah bukan Smart, dan bukan Boss, bukan kata lainnya juga. Melainkan lebih sering kata Casual. ***
Casual itu sendiri BUKANLAH NAMA KELOMPOK, dan tidak berarti harus hanya bernyanyi bahasa Inggris, tidak berarti harus hanya mendiami tribun khusus bersama Casuals lainnya. Jika seorang Casual senang berorganisasi resmi misalnya, maka dia BOLEH terdaftar sebagai anggota official supporters club bersangkutan.(1/9)

JADI, APAKAH ITU CASUAL?  Casual bukan sekadar bermakna tanpa atribut semata. Casual (dalam pengertian sebagai subculture) adalah gaya berpakaian seorang supporter sepakbola yang tidak menggunakan atribut club, tidak menggunakan warna yang identik sedang dipakai oleh kedua tim yang bertanding, dan tidak menggunakan atribut klub lainnya. SEBAGAI GANTINYA, supporter ini memakai pakaian rapih bersih keren menggunakan brand/ merk yang identik dipakai oleh travelling Kopites (supporters LFC) pada sejarah awal terbentuknya subculture ini. Rapih bersih keren juga berarti sepatu, baju dan jacket yang dikenakan pas, nyaman, tidak gombrang kegedean, atau tidak kekecilan, tidak bergaya celana disobek-sobek, tidak dicampur dengan teenage fashion USA atau Korea (apalagi mengingat fashion style USA dan Korea sangat kuat di Indonesia), dan Casuals tidak memakai barang palsu!

Brand/ merk yang diadopsi Casuals ada banyak, dan TIDAK HARUS Stone Island atau harus CP Company goggle jacket. Ada banyak brand/ merk lainnya. Kebanyakan brand mahal sporty dari Continental Europe, selain beberapa juga dari Inggris Raya. Seiring perkembangan Casuals, era 2000-an mulai banyak muncul brand/ merk Casual clobber local di berbagai macam kota di dunia yang menjadi kebanggaan football supporters di area bersangkutan. Casual subculture menyebar hingga ke seluruh dunia, dan tidak sedikit terdapat brand/ merk pakaian lokal di negara bersangkutan dengan kualitas sangat baik diciptakan mengikuti nafas gaya Casual subculture ini. (2/9)

Dengan penjelasan tadi, maka kini kita paham bahwa Casual itu sendiri bukanlah nama kelompok. Siapapun dipersilakan mengadopsi Casual football supporters dressing/ fashion style subculture ini, dan BOLEH saja jika dia adalah seorang anggota resmi official supporters club, atau individu yang berdiri sendiri tidak berorganisasi, atau dengan gaya mendukung semacam Ultras, dll. Siapapun dipersilakan mengadopsi Casual subculture, selama tidak memaksakan diri memakai pakaian & sepatu yang bukan ukurannya, dan tidak memakai barang palsu. Di banyak negara, bagi anak kecil usia 15 tahun kebawah disarankan untuk menggunakan atribut tim kebanggaannya, agar rasa cinta terhadap tim menjadi terbentuk, ketimbang sok berpakaian ala Casual tapi ngaco. .
.
'SEPUTAR BUSANA CASUALS' . Di Liverpool, setiap anak muda Scouser tumbuh dengan sikap jati diri Scally (sebutan untuk "anak bengal"). Ketika Liverpool FC bepergian away days ke Eropa, Kopites yang berangkat kemudian setelah pulang kembali, mereka menemukan gaya busana baru. Gaya Casual yang mereka temukan ini adalah semacam istilah dan cara berpakaian sporty yang sama dengan Scallies, namun berkaitan dengan sepak bola dan brand dari Continent Europe.

Pada perkembangannya, Scousers sebenarnya tidak pernah lagi memakai topi Burberry dan fishtail parka Stone Island (parka hingga ke lutut), karena dua gaya ini mendapat identifikasi jelas sebagai tampilan Casual yang Hooligan di akhir 1980 & awal tahun '90an! Sebagai gantinya, Scousers lebih memakai Lacoste tracksuits dan Reebok trainers. Saat itu belum ada satupun merk yang identik memiliki identitas 'subkultur Casual', patokannya hanyalah MERK SPORTY MAHAL DARI EROPA (kalian tentunya sudah hafal, brand apa saja yang kala itu dipakai, mulai dari Italia, Perancis, Jerman, Inggris dll). Saat itu menjadi Casual hanyalah karena mencoba untuk membawa penampilan berpakaian baru dan pendekatan yang berbeda agar dapat masuk ke stadion dengan aman, BUKAN untuk menunjukkan diri mereka sebagai seorang yang lebih tinggi derajatnya, atau menunjukkan diri sebagai Hooligan.(3/9)

Dimasa kini, setiap supporters memiliki gayanya sendiri. Beberapa supporters yang tak beratribut memakai Adidas dari series semacam Neo, Superstar, NMD, Supreme, Yeezy ataupun gaya berbusana USA lainnya. Tentu saja gaya fashion USA, dan model/ series sepatu tersebut tidak dikategorikan sebagai Casual dan mereka pun bukan Casual, tapi toh mereka tetap supporters loyal, sejati jiwa raga meski bukan Casual (hanya sekadar tanpa atribut saja). Banyak orang yang berpikir bahwa menjadi Casual akan membedakan mereka dari supporters lain, bahkan masyarakat. Banyak supporters Casuals di Indonesia yang membentuk pemikiran pengkotakkan tersebut, menciptakan jarak tak mau bergaul dengan pendukung lainnya. Kenyataannya, di Inggris saat ini tidak banyak firm yang mengelompokkan diri sebagai Casual yang eksklusif, kebanyakan bergaul dengan sesama masyarakat dan local supporters lainnya, mayoritas adalah usia matang sebagai kelas pekerja.

Saat ini gaya fusion fashion style di ranah supporters Eropa berasal dari pengaruh musik dan outdoor hiking. Dan pastinya pengaruh skateboard + subkultur hip-hop USA yang merupakan hal besar di Inggris saat ini pun sangat berpengaruh, misalnya: Adidas Superstar, NMD, Palace, Yeezy, kolaborasi antara Stone Island dan Supreme, atau Lacoste dan Supreme. Casuals yang fanatik terhadap brand "bersejarah pada perkembangan Casual" tidak pernah memakai fusion style serapan USA, tidak mau memakainya, dan tidak akan membelinya! Namun sekali lagi, mungkin itulah yang menjadi minat masyarakat. Industri dan media akan selalu melakukan brainstorming terhadap selera masyakarat, dan Casuals remaja muda yang belum mendapat ilmu/ info akan terpengaruh iklan dan promo dari media industri.

Tapi Scallies Casuals muda di Up North West England tetaplah tidak akan terpengaruh gaya skateboard - hip hop USA, karena pelopor Casuals disana kerap memberi edukasi yang baik dan tidak sesat, meski brand yang dipakai tak lagi melulu bernuansa 80s Casual. Sementara Casuals di Down South of England meski sangat berbeda penampilannya dengan yang di North West, tapi mereka pun juga tidak akan membeli 'skateboard and hip-hop style'.(4/9)

·         Dalam tema bahasan Casual, kita tidak perlu memakai jaket goggle CP Company dan atau Stone Island agar disebut sesuai sebagai Casual. Dalam diskusi mengenai tema Casual subculture, kenakanlah yang kita suka, asalkan itu adalah benar brand yang merupakan subkultur Casual. Para remaja sering berusaha terlalu keras untuk menyesuaikan diri agar dianggap sebagai Casual dengan memakai Stone Island dan CP Company goggle jacket. Yang penting clobber kita berhubungan dengan brand Casual. Itulah hal utama!

·         Jika orang ingin membeli produk collabs maka tidak apa-apa. Akan selalu ada pasar untuk itu, yang mengapa industri terus membuat collabs. Subkultur Casual mengenakan collabs juga, tapi kita harus sadar dengan bentuk designnya, dan kolaborasi mereknya, dan harus yang seperti bagaimana model collabsnya.

·         Casuals tidak akan memakai clobber palsu, takkan pernah! Tapi kita tidak bisa menyalahkan orang lain jika hanya itu yang mereka mampu dan inginkan. Casuals tidak memakai barang palsu, namun jangan mengejek orang lain jika mereka memakai clobber palsu, hanya karena kita adalah sebagai Casual yang sesungguhnya, dan karena kita memakai clobber asli yang mahal!. (5/9)


"APAKAH CASUALS SENANG BERKELAHI?" Ini jawabannya: 
CASUALS BUKAN BERARTI 'PASTI HOOLIGAN' (arti dari Hooligan: pelaku tindakan kriminal atas nama sepakbola, yang dilakukan oleh supporters. Biasanya penyebutan julukan ini disematkan oleh Polisi, Media, dan atau Masyarakat). Begitupun juga sebaliknya. Hooligans belum tentu berpakaian Casual. Terlalu banyak akun socmed masa kini yang adminnya anak kecil tak bertanggung jawab menyebarkan info bahwa Casuals pastilah supporters pelaku kriminal (Hooligans). SALAH BESAR. Sekali lagi saya ulangi, CASUAL BUKAN BERARTI HOOLIGAN. Begitupun juga sebaliknya. Hooligans belum tentu berpakaian Casual.

SESEORANG BERKELAHI KARENA DIA HARUS BERKELAHI, bukan karena brand/ merk pakaian yg dia pakai. Street fighting dapat terjadi kapan saja karena emosi dan insting, contoh: bentrok antara sesama pengendara di jalan raya. Bukan karena merk baju yang dia pakai.

Jika seorang Casual senang berkelahi, Arranged Fight, atau hingga tawuran, Open Fight, dll maka itu adalah karena dianya, si individu bersangkutannya aja, atau kelompok bersangkutan dkk-nya yang kebetulan senang berkelahi (dengan hak dan beragam pembenaran versi mereka). Itu sungguh merupakan hak mereka, selama sungguh sanggup dipertanggung-jawabkan, tidak lempar batu sembunyi tangan. Jadi bukanlah karena dia seorang Casual maka jadinya kudu wajib hobi rutin berkelahi, dan bukan berarti jika ada keributan maka kemudian seluruh Casuals dipukul rata harus ikutan bertanggung jawab, atau seorang figur yang well known berpakaian Casual harus jadi penanggung jawab atas seluruh tindakan setiap orang yang berpakaian Casual. Tidak demikian. Bertanggung-jawablah atas apa yang kita lakukan selama hidup di dunia.

Diluar emosi otak manusia pun, berkelahi sebenarnya adalah merupakan insting dasar. Tanpa perlu berpakaian gaya A atau B atau Z pun kita udah punya insting alami ini. Hewan dan manusia akan berkelahi jika harus berkelahi, tanpa harus berteriak "SAYA CASUAL" atau berpikiran "Karena saya Casual, maka saya harus selalu mencari keributan".(6/9)

Ingat, di awal kemunculan Casual, mereka berpakaian menyamar sebagai orang kaya berpakaian rapih pakai brand2 mahal Eropa adalah justru karena agar bisa menyusup dan menghindar dari perkelahian dengan supporters lawan dan incaran Polisi, agar bisa fokus mendukung LFC. Dan menjadi Casual (saat itu) adalah bukan sebagai simbol jati diri bahwa: 'Berpakaian seperti itu adalah tukang berkelahi yang disembunyikan identitas tukang berkelahinya'. Tidak demikian maknanya. Namun kenapa di Indonesia masa kini jadi mikirnya Casuals harus mengedepankan berkelahi? Kasihan generasi masa kini dan kedepannya, jika banyak dari kita yang hanya mengenal Casual subculture dari buku, film, internet yang jelas2 mengedepankan sisi perkelahiannya agar terbitan mereka laris di pasaran.

Di pertengahan 1960 hingga 1980an akhir dan awal 1990, kondisi ekonomi Inggris buruk. Banyak orang miskin. Otomatis, banyak yg sedikit2 berantem karena lapar dan gak punya duit. Ketika akhirnya Casual menjadi subculture, otomatis fans sepakbola di Inggris yang saat itu mayoritasnya working class - proletariat pun terkena gelombang subculture ini, dan banyak yang ikutan berdandan jadi Casual, dan otomatis karena mereka bandel, akhirnya jadi banyak pula yg melakukan hooliganism (tindakan kriminal yg dilakukan oleh supporters sepakbola). Tapi makna Casuals itu sendiri bukanlah berarti seorang penganut Hooliganism. Seperti yang saya jelaskan tadi, Hooligan adalah sebutan dari Polisi, Media, dan masyarakat bagi fans sepakbola pelaku kriminal. Biasanya yang sering terjadi adalah perkelahian, penyiksaan, pembunuhan, penjarahan, pencurian, pelecehan perempuan, pengrusakan fasilitas. HOOLIGAN BUKANLAH SEBUAH ORGANISASI. Sebenarnya, seorang supporter sepakbola pelaku kriminal yang sesungguhnya justru takkan berteriak "SAYA HOOLIGAN". Sama seperti pelaku 365 KUHP di jalanan justru takkan berteriak "Saya Begal nih, saya Begal". Lagi dan lagi, informasi ngaco dari internet membuat salah kaprah dan mendistorsi kecerdasan generasi muda Indonesia. Jangan menjiplak mentah-mentah tindakan segelintir orang Eropa yang melakukan hal konyol. (7/9)



Ada banyak proper Casual supporters di Eropa, namun mengapa yang dijiplak dijadikan panutan oleh beberapa orang Indonesia justru malah segelintir anak muda bego yang sesat di Eropa sana (yang aksinya diangkat lewat buku, film, internet, socmed).
Benar, bahwa ada masa di pertengahan dan akhir 1980-an ketika banyak anak muda Inggris membentuk berbagai nama kelompok (sebagian besar diantaranya berpakaian Casual) dan mereka ini menjadi perusuh. Namun mari kita fast forward ke masa pasca dirubuhkannya pagar pembatas di stadion dan dihapuskannya tribun berdiri. Di masa kini, local supporters pada match HOME dan AWAY yang cenderung tidak memakai atribut (meski mereka belum tentu menjadi Casual karena mereka sekadar tanpa beratribut, dan bukan menggunakan brand identik Casual. Mereka tidaklah lantas otomatis dapat dikatakan Casual, jika mereka tidak memakai brand2 yang identik dipakai oleh Casual dressers) dan atau Casuals justru sudah banyak yang meninggalkan perilaku hooliganism, dan bahkan BERSATU MEMBENTUK SERIKAT SUPPORTER menyuarakan hak mereka seperti misalnya ticket murah, subsidi away match, dll. Hari ini, pemakaian jersey di Inggris identik dianggap hanya "berlaku" bagi si pemain sepakbola, bagi anak kecil (agar rasa cinta terhadap tim-nya terbentuk) dan bagi tourists maupun daytrippers. Saat ini di Inggris jauh ada lebih banyak local supporters yang tak memakai atribut club (meski mereka bukan Casual dressers) dan juga para Casual supporters dibandingkan local supporters yang masih memakai jersey. Namun Casuals yang tidak berkelahi ini jumlahnya justru lebih banyak dibandingkan/ ketimbang jumlah kecil Casuals yang menjadi Hooligan. Ingat, seorang Casual tidaklah automatically berarti adalah seorang Hooligan pula. Tidak. Once again, jangan termakan info dari buku, film, internet, socmed yang menyatakan hal demikian hanya agar jualannya laris.(8/9)


"Ketika harus berkelahi, manusia akan berkelahi. Bukan karena manusia tersebut memakai Stone Island jacket dan sepatu Adidas SPZL range series maka kemudian harus rutin hobi berkelahi!".
Kalo terpaksa harus berkelahi sih ya berkelahi aja, bukan gara-gara karena jadi Casual. Binatang juga berkelahi akibat insting alami. Yang salah kaprah adalah ketika muncul pemikiran ngaco bahwa Casual kudu rutin gelut. SUPPORT OUR TEAM PROPERLY. PRIDE TO OUR CLUB. Dan bukan mikirin gelut2an. Jauhi perkelahian, tambah persahabatan. JAUHI PERSETERUAN, TAMBAH PERTEMANAN. Namuuuun, jika kita memang sampai harus berkelahi, atas dasar apapun (ini diluar topik sepakbola, bukan hanya sekadar topik sepakbola, juga bukan karena menjadi Casual), maka pastikan bahwa kita MENANG atas lawan kita.

Menghargai perbedaan adalah sangat baik. Tidak ada masalah apakah kita mau menggunakan atribut tim, atau warna identik tim kita, silakan. Atau ingin memakai warna lainnya misalnya hitam atau warna-warna gelap. Juga tidaklah masalah jika kita tidak memakai atribut tim (meski hal tersebut belum tentu lantas berarti menjadi Casual). Atau jika member dari official supporters ingin berpakaian ala Casual? Silakan. Yang terpenting bukanlah aku, kamu, dia, kami, kita, mereka. Yang terpenting adalah mari bersama mendukung tim kita. Bahkan jika kita ingin mengadopsi Casual football supporters fashion style subculture sekalipun, meleburlah BERKARYA POSITIF bersama supporters lainnya, jangan mengeksklusifkan diri kita.
Bagi seluruh supporters sepakbola, selamat membaca tulisan ini agar kita paham bahwa CASUAL BUKANLAH SATU ORGANISASI. Dan bagi kita yang berpakaian Casual, jangan sombong/ menjauh dari sesama masyarakat lainnya just because we're claiming ourselves as a Casual supporters!
(9/9).



Tidak ada komentar:

Posting Komentar